Sebuah Postingan dari Delovers di forum sebelah. Mungkin berguna …

Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.

Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.

Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).

Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih “belajar” maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal digaji oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.
Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.
Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.

Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.
Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan artis-artis baru yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:

Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan “pembusukan”. Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)
Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It’s a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo’on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari “kuli musikal.”

Strategi mega-eksploitatif ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.

Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi favorit para manajer artis (tentu bila mampu).

Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai uzur, grace period atau sudah rendah selling pointnya.

Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming “fame & fortune” di industri musik. Padahal belum tentu bakal “booming” juga :)

Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.
Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan resistensi konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!

Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi “popularitas maksimal dua atau tiga album saja!” Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.

Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan “easy come, easy go!”

Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It’s not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.
Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.
Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor gerakan kembali ke indie ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai “label rekaman”. Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya….. dan mereka cukup berhasil! Salute!

Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori penggratisan musik. Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah marketing tool untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)

Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.
Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi penggratisan musik ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki keistimewaan seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.

Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:
Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.
Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.

Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.
Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.
Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!

Hope we could make real changes together.
For better, not worst….

Dulu, ketika stasiun televisi tidak semarak sekarang,ketika handphone masih menjadi fiksi ilmiah, cara kita memandang dunia berbeda dengan sekarang. Beberapa perubahan ekstrim yang saya dapat catat :

  1. Fotografi. Saat dimana satu rool film begitu berharga, betapa hati hatinya kita menekan shutter. Sekarang?Kita lebih percaya pada photoshop dibandingkan mata dan feel kita.
  2. Sex. Di jaman majalah playboy menjadi harta karun dari tanah seberang, sex menjadi hal yang sulit untuk dibicarakan serenyah chitato. Sekarang kita punya horizon yang luas tentang sex.
  3. Selebritas. Ketika Michael Jackson berteriak black or white, membayangkan bisa dekat dengan sang idola adalah mimpi tak berujung. Sekarang? Ada Gavin Harisson berimprovisasi di depan saya tiap saya mau, ada Chris Cornell yg curhat soal album barunya di hape saya. Sangat dekat …
  4. Komunikasi. Tahu kan … Betapa kantor pos sekarang sepi.
  5. Easy, easy just easy. (hampir) segala hal menjadi mudah. Kadang saya kangen pada sensasi mendapatkan buku idaman setelah berjam jam mondar mandir di pasar shoping jogja. Sekarang kita lebih manja.
  6. Agama. Tuhan tidak lagi ada satu. Ada banyak ‘tuhan tuhan’ baru bertebaran. ‘tuhan’ sekarang main hakim sendiri. ‘Tuhan’ sekarang doyan ngelarang larang. Suka buat aturan seenaknya. Duh, kangen jaman adam dan hawa.

Anda punya daftar sendiri?

Akhirnya ada waktu untuk nulis tentang Jamfest hari kedua. Mungkin getarnya sudah gak terasa lagi. Tapi rasanya penting untuk sedikit bercerita tentang penampil di hari kedua.

Berbeda dengan hari pertama dimana sampai kehabisan memory kamera, hari kedua tidak banyak penampil yang cukup menarik untuk diabadikan. Tapi bukan berarti hari kedua tidak ada penampilan dahsyat. Malah, penampil di hari kedua berhasil membuat saya berdendang riang selama perjalanan pulang.

Ada Dialog Dini Hari. Salah satu penampil terbaik selama Jamfest 2008. Berasa menonton Bob Dylan. Dikala matahari masih menyengat, Penampilan Dialog Dini Hari segar sekali. Band besutan Dadang nya Navicula ini segar sekaligus hangat. Lirik mereka segar sekali.

Lalu ada Klinik musiknya Balawan. Meski sedikit mengecewakan karena sebentar gara gara hujan keburu tumpah, cukup puas melihat Balawan tampil dari jarak 1 meter plus foto bareng dengan Balawan plus Dadang nya Navicula. Bonus yang manis.

Dan syukurnya ketidakpuasan saat klinik terbayar dengan penampilan menawan Balawan bersama Batuan Ethnic Fusion. Sayang cuma 3 lagu …

Ketika show malam itu ditutup dengan penampilan Bali Guitar Club, saya kira cukup banyak juga yang syok dan terkagum kagum dengan penampilan vokalis antah berantah dengan vokal yang powerful dan cukup mampu menjadi Robert Plan malam itu. Ah, andai mereka membawakan lebih banyak lagu.

Jamfest 2008 review :

Penampil Terbaik :

  1. Navicula
  2. Balawan & Batuan Ethnic Fusion
  3. Budjana dan Nyanyian Dharma Foundation
  4. Dialog Dini Hari

Next Big Thing :

  1. Discotion Pill
  2. thedayaftertherain

Penampil Terburuk :

  1. Lolot
  2. Rockavatar
  3. KananLima

naviculaBali Jamfest 2008, sebuah ajang musikal dengan menampilkan band, artis Bali dalam satu event selama dua hari, 5-6 Desember 2008, menyanyikan sebuah tontonan yang menarik. Event yang memasuki tahun keduanya ini menarik minat para penikmat musik, pecinta keramaian dan kerusuhan.

Datang sedikit telat pada hari pertama, langsung mendapat suguhan menawan dari Discotion Pill. Menonton mereka dua kali dalam 2 minggu ternyata tidak membosankan. Masih menyengat, masih inspiratif. Senang melihat mereka beraksi maksimal dengan sound yang lebih berkualitas.

Aksi Budjana bersama Nyanyian Dharma Foundation adalah salah satu penampilan yang saya tunggu selain Navicula dan Discotion Pill. Hangat adalah kata yang tepat untuk menggambarkan penampilan Budjana. Meski tidak banyak bergerak, menikmati suguhan sound yang cozy dengan dukungan penyanyi penyanyi berkualitas sangatlah menyegarkan.

Tapi suguhan terbaik bagi saya malam itu adalah Navicula. Anj*ng! Penampilan mereka sangat memukau. Orasi yang menggigit dari robi membuat tidur tidak nyenyak. :) Dan aksi penutup lagu ‘aku bukan mesin’  dengan meninggalkan gitar yang masih  ‘menyalak’ di atas panggung sangat ‘mengganggu’ perjalanan pulang saya ke rumah. Sangat teatrikal, inspiratif dan ‘mind blowing’.

Aksi penampil lainnya? Biasa saja. Seperti makan permen karet. Dikunyah lalu sepah. Sudah.

Terorisme terjadi lagi …. dan sekali lagi, PARA PENGECUT DAN PECUNDANG menjalankan kebenaran sesat …

Semoga Para Korban bisa damai di atas sana

Semoga terorisme tidak terjadi lagi

PEACE ….

Cukup lama tidak posting soal musik. Enam hari terakhir ini agak sibuk karena mesti meliput acara di Taman Pujaan Bangsa Margarana, Tabanan, Bali. Untuk informasi, di tempat ini lah dulu perang puputan Margarana yang tersohor itu terjadi. Untuk mengenang kejadian itu, masyarakat Desa Kelaci mengadakan kegiatan selama 7 hari 7 malam. Mantap dah.

Acaranya sendiri ramai, karena mengundang band band bali yang te o pe lah. Tapi saya tidak akan mengulas soal mereka mereka itu karena tidak memberi pencerahan apapun. :) Yang menarik adalah para band pembuka. selama 3 hari, ada sekitar 15 band pembuka, meski tidak semuanya bagus. Beberapa yang menarik adalah Error Scream. Band metal sangar ini menyajikan musik yang ganas, cepat, dan lugas. Durasi lagu saya rasa tidak ada yang lebih dari 2 menit. Cadas dan membuat ketagihan dan sedikit terlalu cepat berlalu. Lainnya yang cukup menawan adalah The Dissland. Saya bukan penggemar Punk tapi anak punk yang satu ini menyajikan punk dengan porsi yang tepat, dan kadar yang cukup. Punk yang apa adanya, lirik yang tidak cinta cintaan. Nah ini saya suka. Liriknya pun bagus, persuasif tapi tidak mengajak untuk mengacau. Menarik. Ada juga Dayaftertherain. Segar aja melihat mereka membawakan britrock diantara gempuran punk dan metal. Band ini punya potensi jadi besar. Permainan rapi, vokalis yang kuat dan mereka god looking. Lagu garapan mereka pun asik punya, lirik bahasa Inggris dibawakan dengan lafal yang bagus. Satu catatan bagi saya adalah, lagunya terlalu British kalau tidak mau dibilang terlalu coldplay. Aransemen ulang creap milik Radiohead meraka garap dengan sangat baik, artinya potensi mereka untuk membuat lagu yang gak terlalu terpengaruh sama influences mereka pun masih sangat besar. Sangat menarik menunggu perkembangan mereka.

Tapi yang paling membuat saya terpana adalah Discotion Pill. Damn, kemana saja saya selama ini. Band ini top! TOP! Apa yang mereka garap dan bawakan, rasanya belum ada di negeri ini (entahlah …). Dan mereka ini adalah band panggung saya pikir. Sempat download lagu mereka dan dengarkan versi rekaman, saya tidak merasakan sensasi ketika menonton mereka. Entahlah. Mungkin karena belum mendengarkan seluruh isi album mereka. Tapi penampilan mereka memang membius. Formasi tiga orang dengan Drummer yang cekatan, Bassis yang kuat, dan Gitaris/ Vokalis/Synthesizer yang bermain seperti jenius musik kesurupan.

Konsep mereka sebenarnya tidak orisinil banget ataupun rumit layaknya progressive. Memadukan disco dengan distorsi berasa punk tapi lebih kasar dan garage, bukanlah hal yang baru di dunia ini. Tapi mereka mampu menggarapnya dengan kadar yang semantap kopi tubruk. Menyengat, segar dan chaos …

Jadi ingat akan posting awal saya di blog ini. Tentang pencarian identitas dalam bermusik. Tentang scene musik di Bali yang monoton. Saya mau sedikit meralat hal itu. Discotion Pill telah menghidupkan apa yang selama ini saya anggap stagnan.

Band ini punya potensi jadi band besar dengan jangkauan yang luas, luar negeri. Saya optimis akan hal itu. Saya lihat mereka punya team yang kuat, manajemen yang baik, promosi yang gencar. Meski mungkin tidak sampai jadi besar dan sejajar dengan Muse misalnya, tapi minimal, secara underground meraka akan menjajah club club tersohor dunia, festival festival musik undrground luar negeri. Saya yakin itu, meski saya tidak yakin mereka bisa dengan mudah menjajah scene musik nusantara, mengingat selera musik kita yang belum massal untuk musik macem ini.

Ulasan detail bisa dibaca di LocalHero Edisi pertama ya …

Baru baru ini, seorang sahabat dari teman kantor saya meninggal.Masih cukup muda, 22 tahun. Sebuah tabrakan maut telah merenggut nyawanya. Saya tidak mengenalnya secara personal. Tapi sepertinya, semasa hidupnya dia telah menjadi pribadi yang baik. Terlihat dari begitu terpukulnya teman kantor saya begitu mendengar kabar itu. Begitu juga dengan temannya dari berbagai tempat hadir saat kremasinya.

Seminggu kemudian, teman saya ini bercerita betapa dia makin merasa kehilangan ketika membuka halaman friendter sohibnya itu, dan mendapati bahwa begitu banyak sahabat – sahabat almarhum di dunia maya yang kebingungan karena sekian lama tidak mendapat kabar darinya. Dan teman saya ini, akhirnya menjadi perwakilan almarhum untuk menyampaikan berita duka itu. Semua terkejut. Merasa kehilangan. Puluhan testimoni mengalir sebagai tanda duka. Teman kantor saya ini yang semula hendak mencari cara untuk men- delete account friendster almarhum mengurungkan niatnya. Dunia maya, dengan sejuta manfaat dan bencana yang ditimbulkannya, telah menjadi wahana keabadian…

Sungguh Ironis …..

“Kematian, kemalangan, tidak pernah memberi tanda. Tapi kapan pun datangnya, mungkin memang itulah hari terbaik bagi kita untuk menghadapinya … “

Seperti sudah menjadi rutinitas, di bulan bulan ini( oktober – november), setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir ini diramaikan dengan kasak kusuk dan pembicaraan yang mulai mengusik. CPNS. Ya, penerimaan para Pegawai Negeri SIpil. cobalah tengok ke kantor kantor tenaga kerja, tampak keramaian orang yang ngantri untuk mendapatkan kartu kuning, salah satu persyaratan untuk mengikuti test CPNS.

Yang menjadi perhatian terbesar saya bukanlah masalah kasak kusuk pencarian jalur ‘alternatif’nya. Tapi ada satu hal yang mengusik. Sebesar inikah keputusasaan kita dalam mengejar karir? Selalu ada jawaban realistis yang saya dapat, bahwa di jaman yang serba sulit (katanya), mencari pekerjaan yang menjamin kehidupan sampai hari tua adalah hal pokok, dan menjadi PNS adalah salah satu jalan terbaik. Ya, saya akui itu. Dengan gaji bulanan plus bonus gaji ke13, meski jumlahnya tidak sefantastis gaji para pegawai hotel, tapi faktor tekanan yang tidak sekeras di bidang lain, menjadi PNS adalah sebuah zona nyaman. Selama tidak melakukan pelanggaran yang berat macam tindak pidana, narkoba, dsb ancaman pemecatan nyaris tidak ada. Nol, zero, nihil. Bandingkan dengan di hotel atau bidang disain dimana prestasi dan ide ide brilian menjadi jaminan garansi bahwa anda masih layak dipekerjakan. Di lingkungan PNS, prestasi menjadi bonus bagi mereka yang memang berniat untuk mengejar karir. Bila tidak tertarik pada jabatan, cukup bekerja normal saja, maka jaminan hari tua anda sudah di tangan. Sangat nyaman.

Tapi saya ngeri melihat hal ini. Mungkin sekali lagi saya terlalu paranoid. Tapi ini menjadi indikasi bagi saya, bahwa betapa tidak kompetitifnya kita. Lho, apakah test CPNS tidak kompetitif? Maaf,saya meragukan itu. Lihatlah teman teman kita yang bekerja di luar negeri, kapal pesiar itu. Tanyakan pada meraka tekanan yang mereka rasakan setiap hari. Gaji mereka memang besar, tapi itu sebanding dengan tekanan yang mereka dapat. Lihatlah para pekerja kreatif, periklanan. Otak mereka diperas setiap saat, untuk menghasilkan ‘hook’ yang mengena pasar. Kompetitif disini bagi saya adalah, ketika anda menjadi lebih baik setiap harinya, mendapat tekanan, dan mencapai batas batas kemampuan anda. Ah, mungkin ini terlalu idealis. Tapi, ketika era globalisasi digembar gemborkan, isu kompetisi menjadi isu sentral. Dan bukan isapan jempol. Suatu saat nanti, ketika kita terlena dengan harapan hidup nyaman ini, maka tamatlah sudah. Meski banyak putra putra daerah yang meraih level kompetisi yang tinggi di negeri seberang, tapi sejauh ini saya lihat industri pariwisata yang kita banggakan masih diatur oleh para kreator dari luar. Kita, saya, belum mampu mencapai level kompetisi itu secara massal. Baru segelintir orang. Padahal bila kita mau kita mampu.

Kelemahan terbesar orang Bali adalah di bidang ini. Kompetisi dan wirausaha. Kita tidak terbiasa berkompetisi. Kompetisi bukanlah budaya kita. Begitu juga wirausaha. Pilihan menjadi wirausahawan menjadi pilihan yang berat. Kita takut. Takut terhadap dinamika.

Menjadi PNS bukanlah pilihan yang salah dan hina. Saya tidak bermaksud bicara begitu. Tetapi ketika menjadi PNS ( entah pamong praja ataupun guru) adalah sebuah zona aman dan nyaman, saya menjadi sangat takut. PNS adalah sebuah jabatan terhormat. Menjadi Guru adalah jabatan terhormat dan penuh dedikasi. Dan saya sangat meragukan orang orang yang mengejar posisi itu hanya karena berharap mendapatkan kehidupan yang nyaman. Betapa tidak terjaminnya tatanan kita bila diatur dan di didik oleh orang – orang semacam itu.

Semoga apa yang saya pikirkan hanyalah mimpi buruk  belaka ….

Menyimak siaran radio di Bali sekarang seperti melintas di mall dan pasar senggol saja. Lagu lagunya tipikal, terlalu populis dan pop. Kadar musik selain pop bisa dihitung kurang dari 5 karat saja. Kadar tidak populis juga sama menyedihkannya. Hadirnya beberapa radio waralaba (?) macam hardrock dan OZ juga tidak menolong. Yah, memang konsep mereka seperti begitu kali ya … cuma sedih saja karena sudah sesak radio dengan format tipikal begitu. beda istilah doang, beda baju aja, beda mulut penyiarnya aja.

Obrol obrol dengan teman teman radio, katanya pengiklan sekarang lebih memilih format acara dan lagu yang begitu; popular dan trendy. Mereka gak bisa dong seenaknya melawan arus yang berarti ditinggal sumber penghasilan mereka ….

Mungkin saya agak paranoid,  tapi ini seperti lingkaran setan bagi saya. Setidaknya, membuka wawasan penggemar adalah kewajiban media, termasuk radio, pikir saya. Selama mereka begitu tergantung dengan iklan dan pihak pengiklan tidak berani merambah jalur baru … selamanya kita akan terbelit ‘lingkaran’ ini. Bukannya tidak suka dengan sesuatu yang pop dan populis, tapi nikmat banget rasanya menikmati aroma jazz dan keringat rock n roll.  Sesuatu yang berbeda itu punya sensasi yang unik, kan?  Senang rasanya bisa menawarkan rasa baru … ataukah saya saja yang merasa begini??

Barack Obama, akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Meski sudah diprediksi dan diharapkan oleh banyak pihak, tetap saja kemenangan Obama adalah sebuah sejarah besar.

Saya tidak tahu, perubahan apa yang akan terjadi akibat terpilihnya Obama. Saya tidak mengerti soal ekonomi dan juga sangat tidak fasih bicara politik. Saya sendiri tidak tahu dan mengerti Obama secara detail. Saya sendiri tidak bisa berkomentar soal sifat mulia Obama, karena saya tidak yakin kemualiaan apa yang dia punya.

Kemenangan Obama, secara personal adalah sebuah tamparan telak. Sangat telak. Kemenangan Obama adalah  kemenangan determinasi dan keberanian bermimpi. Dua hal yang saya tidak punya. Obama telah menunjukkan pada dunia bahwa iklan Adidas bukanlah omong kosong belaka. Imposible is Nothing.

Ya, untuk pertama kalinya, Amerika Serikat dipimpin oleh orang dengan darah Afrika, rasa Asia dan hasrat Amerika. Hal yang dalam seratus tahun tarakhir tidak pernah terpikirkan. Kelebihan utama Obama, sejauh saya mampu melihat adalah dua hal tadi. Obama punya mimpi besar, bukan … OBAMA BERANI MEMIMPIKAN HAL BESAR.  Banyak orang mungkin memiliki angan angan tinggi, mimpi selangit, tapi tidak mampu mewujudkannya. Bahkan mungkin tidak berani memikirkannya untuk kedua kalinya. Tapi Obama berani, dan mampu. Determinasinya mengalahkan semua keraguan dan kemustahilan. Dia berjuang keras untuk mencapai mimpinya. Dan dia berhasil.

Kali ini saya berutang pada Obama …

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.